Dinas Pertanian Lmapung Tengah: Pupuk Subsidi Tidak Langka

July 20, 2017
Lampung Tengah- Kurangnya alokasi Pupuk Bersubsidi dari Pemerintah Pusat, Dinas Pertanian Kabupaten Lampung Tengah meminta para Petani di Lamteng agar lebih kreatif dalam mengolah pupuk organik dan pupuk kandang. 
Sekertaris Dinas Pertanian Lamteng Edy mengatakan, alokasi pupuk bersubsidi dari Pemerintah Pusat tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan pupuk petani di Lamteng. Sehingga petani harus lebih mandiri dalam mengelola lahan yang akan ditanami.

"Pupuk subsidi bukan langka, tapi alokasinya dari pemerintah pusat memang kurang dan tidak bisa memenuhi kebutuhan saat musim tanam,"ujarnya saat dijumpai awak media diruang kerjanya, Jum"at (21/7).‎

Untuk mensiasati hal ini, petani diharapkan tidak terlalu mengandalkan pupuk subsidi seperti urea. Namun harus bisa mengolah pupuk dari organik atau pupuk kandang. Sebab, untuk pupuk bersubsidi tidak akan bisa memenuhi kebutuhan.

Di Lamteng sendiri, sebenarnya kebutuhan pupuk urea mencapai 106.810,2 ton, tapi hanya teralokasikan 47.899,0 ton atau hanya ada 44,84 persen. Sedangkan untuk SP 36 kebutuhan mencapai 51.819,9 ton sementara hanya ada 8.437,0 ton atau 16,28 persen. Kebutuhan pupuk ZA 97.033,1 ton yang ada hanya 2.875,0 ton atau 2,96 persen, untuk kebutuhan pupuk organik dibutuhkan 108.216, 4 ton namun hanya ada 5.200,0 ton atau 4,81 persen.

"Sementara pupuk subsidi yang alokasinya mencukupi hanya NPK. Pupuk NPK lebih dari cukup, karena kebutuhan 22.307,5 ton alokasinya mencapai 25,846,0 ton atau 115 persen,"ungkapnya sembari menunjukkan data kebutuhan pupuk yang dibutuhkan untuk 28 Kecamatan Se-Lamteng.    ‎

Edi menjelaskan, bila pupuk seperti urea tidak di subsidi pemerintah, maka petani akan membeli dengan harga Rp 5.000 ribu lebih perkilonya. Meski kurang pupuk subsidinya, setidaknya petani masih bisa membeli dengan harga Rp1.800 perkilonya.

"Yang pasti pemerintah pusat gak guat kalau untuk mensubsidi pupuk secara full. Malah katanya saya denger tahun depan subsidi pupuk akan berkurang. Tapi volumenya tetap, yang dikurangi volume gasnya. Karena yang akan disubsidi kemungkinan produsen pupuknya bukan harganya,"terangnya.

Ia mengungkapkan, kurangnya kebutuhan alokasi pupuk urea memang terjadi bukan hanya di satu kabupaten atau provinsi tapi secara nasional kebutuhan pupuk subsidi kurang atau tidak mampu memenuhi kebutuhan yang ada.

"Yang jelas  kita melalui penyuluhan kebutuhan pupuk sangat kurang. Ya ibaratnya kalau petani mau kreatif, ya harus bisa memanfaatkan pupuk organik dan pupuk kandang. Ya, kalau petani ada duwit beli sendiri pupuk yang gak disubsidi."pungkasnya.(Rendra)


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »