Antara Korporasi, Zainudin Hasan Versus NU

October 23, 2017
Bandarlampung,-Upaya Bupati Lampung Selatan, Zainudin Hasan untuk menggulingkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj saat memberi sambutan memperingati Hari Santri Nasional, Minggu (22/10) diduga menjadi bagian dalam skenario besar politik untuk mendukung bakal calon gubernur (Balongub), Arinal Djunaidi yang kabarnya dibekingi oleh koorporasi (perusahaan) dan diusung oleh Partai Amanat Nasional (PAN) pada pilgub 2018 mendatang.

Adapun beberapa indikator Ketua DPW PAN Lampung ini untuk mendukung Balongub Arinal Djunaidi, diantaranya, dengan menggulingkan kepemimpinan Bakhtiar Basri yang juga merupakan simbol Tokoh Muhammadiyah Lampung dalam menahkodai partai berlambang matahari terbit. Karena, Wakil Gubernur Lampung ini memiliki komitmen yang tegas untuk mendukung dan turut serta memenangkan kembali petahana M.Ridho Ficardo pada pilgub mendatang.

Hal ini tentunya sangat bertentangan dengan upaya pemerintah Indonesia yang notabene sebuah Negara majemuk dengan mengedepankan persatuan dan kesatuan.

Kisruh pergantian Bakhtiar Basri ini tidak terlepas dari proses politik menjelang pemilihan gubernur (Pilgub) Lampung 2018. Keluarnya rekomendasi palsu dari PAN menjadi sebuah skenario politik dalam melanggengkan oligarki politik.

Keinginan politik Zainudin Hasan menduduki Ketua DPW PAN Lampung sesungguhnya menjadi keinginan lama yang terpendam. Momentum ini dimanfaatkan oleh Zainudin Hasan ketika Bakhtiar Basri melakukan ‘pembangkangan politik’ terhadap Zulkifli Hasan selaku Ketua DPP ketika diminta bersanding dengan Arinal Junaidi pada konteks Pilgub Lampung 2018.

Kenapa Bakhtiar Basri menolak? Walaupun posisi tawar politik Bakhtiar Basri terhadap M. Ridho Ficardo belum pasti kembali bersama pada Jilid II, Bakhtiar Basri tentu tidak bodoh melihat tokoh Arinal Junaidi yang di sokong oleh salah satu perusahaan besar untuk pencalonannya di Pilgub Lampung 2018.

Arinal yang diketahui oleh publik Lampung mempunyai rekam jejak yang tidak terlalu moncer dalam kepentingan masyarakat Lampung, justru dikenal dengan sosok yang ‘arogan’. Beberapa kali bermasalah dengan jurnalis dan melakukan tindakan tidak pantas dengan memukul salah seorang karyawan maskapai penerbangan. Bahkan, dalam pencalonannya sebagai bakal calon gubernur Lampung hingga saat ini, jurnalis Lampung sangat sulit melakukan wawancara secara langsung justru terkesan menghindari.

Tampil dihadapan publik dengan senyum yang dipaksakan, amatlah sulit membangun citra positif Arinal Junaidi dalam merebut simpati warga Lampung. Beberapa hal tersebut diatas setidaknya menjadi perhatian publik ketika mengingat sosok Arinal dalam kancah politik Lampung.

Koordinator Front Muda Nahdliyin, Een Riansah menyampaikan bahwa pihaknya mendemo Bupati Lampung Selatan, Zainuddin Hasan karena dinilai telah gagal dalam memimpin kabupaten Lampung Selatan. Sebab, ketidakmampuan dalam mengayomi dan membimbing keberagaman umat beragama.

“Ini adalah bentuk pelecehan dan penghinaan terhadap warga Nahdliyyin secara keseluruhan,” ucapnya.

Sambutan adik Ketua MPR RI ini pada acara peringatan Hari Santri Nasional, Minggu (22/10) di lapangan cipta karya Lampung selatan yang meminta agar Said Aqil Siradj selaku ketua PBNU dapat diganti dianggap sangat melukai perasaan semua warga Nahdliyin se- provinsi Lampung.

Karena, ia menilai sambutan itu mengandung unsur penghinaan dan cenderung provokatif.

”Pernyataan ini terkesan memalukan dan sangat tidak layak disampaikan oleh seorang kepala daerah. Ini adalah bentuk pelecehan dan penghinaan terhadap warga Nahdliyyin secara keseluruhan,” ujarnya.(RED)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »