Mesuji -Proyek hotmix jalan Brabasan-Wiralaga diduga tidak memenuhi standar pengaspalan binder (AC-BC) kegiatan yang menghabiskan dana sebesar Rp 140 miliar itu diketahui ketebalan aspalnya hanya 4 centimeter alhasil dengan adanya indikasi pengurangan volume tersebut selain merugikan keuangan negara, PT Sang Bima Ratu (SBR) selaku rekanan tidak mendukung program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dalam upaya mewujdkan jalan mantap 80 persen.

“Sangat memprihatinkan jika memang dugaannya seperti itu, adanya indikasi pengurangan volume yakni ketebalan aspal hanya 4 centimeter jelas membuktikan jika rekanan tidak melakukan pekerjaan tersebut sesuai dengan surat perintah kerja. Kami berharap Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) segera mealkukan crosscheck lapangan jika dibiarkan dikhawatirka n akan muncul asumsi jika dinas terkait ada indikasi main mata dengan rekanan,”terang Direktur Eksekutif Gerakan Masyararakat Anti Korupsi (Gasak), Yudi Setiawan, Jum’at (26/10).

Pengurangan kuantitas dan kualitas pekerjaan tersebut sambungnya memenuhi unsur tindak pidana korupsi oleh sebab itu Ia berpendapat Dinas PUPR agar tidak membayarkan hasil pekerjaan itu.
“Saya yakin akan terjadi kelebihan pembayaran dan otomatis hal itu merugikan keuangan daerah dan dampak negatifnya akan dirasakan oleh msayarakat Mesuji,”ucapnya.

Diberitakan sebelunya Yusdianto adanya dugaan pengerjaan jalan Brabasan Wiralaga yang tidak sesuai dengan standar ketebalan aspal binder yakni 6 centimeter alhasil membuktikan adanya pengurangan kuantitas dan kualitas dan kuat dugaan hal itu dilakukan oleh rekanan.

“Dalam kontrak selalu diatur tentang kuantitas dan kualitas barang dan jasa yang diperjanjikan, sehingga setiap usaha untuk mengurangi kuantitas atau kualitas barang dan jasa adalah tindak pidana,”tegas Kandidat Doktor Universitas Padjajaran (Unpad).

Diberitakan sebelumnya pengerjaan pembangunan jalan ruas Brabasan-Wiralaga oleh PT Sang Bima Ratu sebagai pelaksana pekerjaan dari PT Amarta Karya sebagai pemenang tender disinyalir asal jadi dan kuat dugaan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang diatur dalam surat perintah kerja.
Dari pantauan terungkap jika aspal yang dihampar diduga tidak memenuhi standar spesifikasi ketebalan Aspal Binder (AC-BC) yang semestinya mencapai 6 centimeter, kondisi yang terjadi disinyalir hampir setiap  titik pengaspalan yang dilakukan tidak mencapai standar ketebalan aspal AC-BC.

Semestinya meski dilalui kendaraan berat melebihi tonase sekalipun, jalan yang telah di lakukan pengaspalan dengan memenuhi standar Aspal Binder tidak akan mengalami kerusakan parah.
Sementara pelaksana pekerjaan PT Sang Bima Ratu (SBR), Agus Herdiana saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon membatan jika pengerjaan itu tidak memenuhi standar.

“ Silahkan langsung cros check di lapangan dimana yang tidak sesuai dan soal aspal binder kami juga minta diberitahukan dimana saja yang masih kurang,”jelas Agus saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (14/10).